
CIREBON, KOMPAS.com – SMP Negeri 3 Plered, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menjadi salah satu sekolah yang masih memiliki banyak kursi kosong dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026.
Namun, pihak sekolah menegaskan kondisi itu bukan semata-mata karena sepi peminat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMPN 3 Plered, Sumarno, mengatakan faktor utama belum terpenuhinya kuota siswa baru adalah kondisi geografis sekolah dan terbatasnya jumlah sekolah dasar (SD) penyangga.
SMPN 3 Plered berada di Jalan Pangkalan, Desa Pangkalan, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon.
Lokasinya tidak jauh dari kawasan wisata kuliner Empal Gentong Krucuk atau H Apud serta Sentra Batik Trusmi.
Akses menuju kawasan tersebut tergolong baik karena berada di sebelah utara jalan utama Pantura, yakni Jalan Raya Tegal-Cirebon atau Jalan Ir H Juanda.
Namun, posisi gerbang sekolah berada agak masuk ke permukiman warga. Wilayah yang menjadi penyangga sekolah juga hanya mencakup empat desa. Baca juga: Sanggar Kegiatan Belajar di Cilincing, Tempat Anak-anak Pesisir Kembali Berani Bermimpi
Baru Terisi 151 Pendaftar dari Kuota 287 Siswa
SMPN 3 Plered memiliki daya tampung sebanyak 287 siswa pada SPMB 2026.
Namun, hingga proses penerimaan berjalan, jumlah pendaftar yang tercatat baru mencapai 151 siswa. Artinya, masih ada lebih dari 130 kursi yang belum terisi.
Sumarno menjelaskan, SMPN 3 Plered hanya ditopang oleh empat desa, yakni Desa Cangkring, Desa Pangkalan, Desa Bakung Lor, dan Desa Bakung Kidul.
Jumlah SD penyangga di wilayah tersebut juga terbatas, yakni sekitar 10 sekolah.
“Kalau SMP 3 masuk ke dalam dan hanya di-backup oleh empat desa, yakni Desa Cangkring, Desa Pangkalan, Desa Bakung Lor dan Desa Bakung Kidul. SD penyangganya juga hanya sekitar 10 sekolah. Setelah saya pelajari, jumlah siswa dari SD penyangga itu kisarannya hanya sekitar 200 siswa,” ujar Sumarno saat diwawancarai melalui sambungan telepon, Kamis (9/7/2026).
Menurut Sumarno, dari sekitar 200 lulusan SD di wilayah penyangga, sebanyak 153 siswa sudah memilih masuk ke SMPN 3 Plered.
Ia menilai angka tersebut sebenarnya cukup tinggi karena sudah mendekati 80 persen dari total lulusan SD di sekitar sekolah.
“Jadi kalau masuk ke SMP 3 itu sampai 153 siswa, itu sudah hampir 80 persen. Sisanya ada yang masuk ke SMP lain seperti Gunung Jati 3 maupun MTs. Jadi memang faktor utamanya karena SD penyangganya sedikit,” ucapnya.
Lokasi dan Jumlah Penduduk Jadi Tantangan
Sumarno mengatakan, kondisi SMPN 3 Plered berbeda dengan sekolah lain yang berada di wilayah padat penduduk.
Di sejumlah sekolah lain, jumlah SD penyangga lebih banyak sehingga potensi calon murid yang mendaftar juga lebih besar.
Sementara itu, SMPN 3 Plered hanya memiliki wilayah penyangga terbatas dan jumlah penduduk di sekitarnya tidak sebanyak kawasan lain.
“Ya, karena lokasi. Lokasinya hanya di-backup oleh empat desa. Memang penduduk di wilayah sini lebih sedikit dibanding daerah lain,” jelas dia.
Meski demikian, Sumarno menegaskan bahwa kekurangan siswa baru bukan berarti sekolah tidak siap menerima peserta didik.
Ia memastikan sarana dan prasarana SMPN 3 Plered masih sangat memadai.
Ruang kelas masih tersedia apabila jumlah siswa bertambah. Tenaga pengajar juga disebut mencukupi untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.
“Sarana prasarana masih ada, makanya dulu mengajukan sembilan rombongan belajar karena memang ruang kelas masih tersedia. Untuk guru juga sangat terpenuhi, tidak ada kekurangan tenaga pengajar,” katanya.
Sekolah Punya Program Unggulan
Selain fasilitas yang masih mencukupi, SMPN 3 Plered juga memiliki sejumlah program unggulan yang terus dikembangkan.
Sumarno menyebut, beberapa bidang yang menjadi unggulan sekolah antara lain olahraga dan seni budaya.
Program olahraga yang dikembangkan mencakup futsal dan atletik. Sementara di bidang seni, sekolah mendorong pengembangan kesenian daerah, termasuk tari-tarian.
“Unggulannya futsal, atletik, kemudian kesenian seperti tari-tarian. Kebetulan saya juga dari bidang kebudayaan, jadi ingin mengembangkan kebudayaan daerah di sekolah ini,” ujarnya.
Menurut Sumarno, pihak sekolah juga telah melakukan sosialisasi sejak awal pelaksanaan SPMB.
Sosialisasi dilakukan kepada seluruh SD penyangga untuk memperkenalkan fasilitas, tenaga pendidik, serta program unggulan SMPN 3 Plered.
Namun, keterbatasan jumlah lulusan SD tetap menjadi tantangan utama dalam pemenuhan kuota.
“Dari awal sosialisasi SPMB kami sudah mengundang semua SD penyangga. Kelebihan sekolah juga sudah kami sampaikan. Memang kendalanya karena jumlah siswanya yang terbatas,” ucap Sumarno.
Ada Optimalisasi Penerimaan secara Offline
Sumarno mengapresiasi langkah Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon yang membuka program optimalisasi penerimaan secara offline bagi sekolah yang masih kekurangan siswa.
Melalui program itu, sekolah yang belum memenuhi daya tampung dapat kembali menerima calon murid yang belum tertampung.
Hingga Kamis siang, jumlah siswa yang diterima di SMPN 3 Plered bertambah menjadi 153 orang.
“Sudah ada tambahan dua siswa karena dibuka jalur offline. Mudah-mudahan nanti masih bertambah lagi,” jelas dia.
Sumarno mengajak orang tua agar tidak ragu menyekolahkan anaknya di SMPN 3 Plered.
Ia memastikan sekolah siap memberikan layanan pendidikan dengan dukungan tenaga pendidik dan fasilitas yang memadai.
“Semua guru di SMPN 3 Plered berkualitas, sarana juga mendukung. Silakan Bapak dan Ibu menitipkan putra-putrinya kepada kami. Insyaallah saya akan bertanggung jawab mendidik mereka dengan sungguh-sungguh, karena pendidikan harus menjadi yang utama,” katanya.
Jumlah Siswa Baru Tetap Naik Dibanding Tahun Lalu
Pihak sekolah menyebut hasil SPMB 2026 sebenarnya masih sesuai dengan ekspektasi.
Jumlah siswa yang diterima pada tahap awal sebanyak 151 orang. Setelah program optimalisasi dibuka, jumlahnya bertambah menjadi 153 orang.
Angka tersebut lebih tinggi dibanding jumlah lulusan SMPN 3 Plered tahun ini yang mencapai 113 siswa.
Jumlah penerimaan tahun ini juga meningkat dibandingkan penerimaan tahun lalu yang sebanyak 141 siswa.
Menurut sekolah, daya tampung hingga 287 siswa disiapkan sebagai bentuk kesiapan membuka akses pendidikan seluas-luasnya, termasuk bagi calon murid dari luar desa penyangga.
Karena itu, masih adanya kursi kosong tidak serta-merta menunjukkan rendahnya minat masyarakat.
Kondisi tersebut lebih merupakan konsekuensi dari penyediaan kapasitas yang lebih besar dibanding jumlah calon murid dari wilayah penyangga.
35 SMP Negeri di Cirebon Belum Penuhi Kuota
Sebelumnya, pelaksanaan SPMB Tahun Ajaran 2026/2027 di Kabupaten Cirebon masih menyisakan persoalan.
Dari total 80 SMP negeri, sebanyak 35 sekolah belum berhasil memenuhi kuota penerimaan siswa baru.
SMPN 3 Plered menjadi salah satu sekolah dengan jumlah kekurangan peserta didik cukup besar.
Dari daya tampung 287 siswa, pada tahap awal baru terisi 151 siswa sehingga masih tersedia lebih dari 130 kursi kosong.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon, H Ronianto, mengatakan pemerintah membuka program optimalisasi keterserapan daya tampung hingga 11 Juli 2026.
Melalui mekanisme tersebut, sekolah negeri yang masih kekurangan siswa dapat menerima calon murid yang sebelumnya belum tertampung.
Menurut Ronianto, pemerintah tidak hanya berupaya memenuhi kuota sekolah negeri.
Pemerintah juga memastikan seluruh lulusan SD tetap memperoleh akses pendidikan, baik melalui sekolah negeri, sekolah swasta, maupun Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang tersedia di seluruh wilayah Kabupaten Cirebon.
Sumber:
https://regional.kompas.com/read/2026/07/09/173808878/smpn-3-plered-cirebon-kekurangan-ratusan-siswa-baru-apa-penyebabnya?page=3.
