TRIBUNJABAR.ID – Pemeriksaan urine yang dilakukan setiap tahun, mulai usia tiga tahun dinilai dapat menjadi langkah efektif mencegah gagal ginjal pada anak.

Pemeriksaan yang kerap dianggap sepele itu justru mampu mendeteksi gangguan ginjal sejak belum muncul gejala, sehingga pengobatan dapat dilakukan lebih cepat sebelum terjadi kerusakan permanen.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Nefrologi (Ginjal) di Santosa Bandung Central, dr. Rini Rossanti, Sp.A., Subsp.Nefro(K), M.Kes., PhD, mengatakan penyakit ginjal tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga dapat dialami anak-anak dari berbagai kelompok usia.

Hal itu terjadi karena setiap orang memiliki organ ginjal yang berpotensi mengalami gangguan.

“Secara umum kerusakan ginjal pada anak sama seperti yang terjadi pada orang dewasa. Perbedaannya terletak pada penyebab. Pada anak, penyakit ginjal lebih sering dipicu oleh infeksi, gangguan sistem imun atau autoimun, serta kelainan bawaan maupun faktor genetik,” ujarnya, kepada Tribunjabar.id, Senin (6/7/2026).

Ia mengungkapkan, hingga kini Indonesia memang belum memiliki angka insidensi penyakit ginjal pada anak yang benar-benar sahih secara statistik. Namun berdasarkan pengalaman klinis, jumlah kasus yang ditemui terus menunjukkan peningkatan.

“Penyakit ginjal pada anak cukup mengalami peningkatan kasus,” ujarnya.

dr. Rini menjelaskan, penyebab penyakit ginjal pada anak cukup beragam, mulai dari kelainan bawaan, infeksi, tumor, hingga penyakit autoimun.

Di antara berbagai penyebab tersebut, infeksi dan gangguan sistem kekebalan tubuh masih menjadi faktor yang paling banyak ditemukan.

Ia juga meluruskan anggapan bahwa minuman manis menjadi penyebab langsung penyakit ginjal pada anak.

“Konsumsi minuman manis secara berlebihan memang tidak langsung merusak ginjal, tetapi dapat memicu obesitas dan hipertensi yang pada akhirnya meningkatkan risiko terjadinya penyakit ginjal,” katanya.

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan penyakit ginjal pada anak adalah gejalanya yang sering tidak disadari. Pada tahap awal, anak dapat mengalami kebocoran protein dalam urine tanpa keluhan apa pun.

“Gejala biasanya baru terlihat ketika kebocoran protein sudah cukup berat. Kondisi tersebut ditandai dengan kedua kelopak mata yang membengkak saat bangun tidur serta urine yang berbusa,” ucapnya.

Selain itu, urine dapat berubah menjadi merah seperti air cucian daging atau merah gelap menyerupai warna minuman kola. Tekanan darah tinggi juga dapat muncul sebagai tanda gangguan ginjal.

Sementara itu, setiap keluhan saat buang air kecil juga perlu menjadi perhatian karena dapat mengarah pada kelainan ginjal.

“Karena banyak kasus tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, pentingnya deteksi dini melalui pemeriksaan urine rutin,” tuturnya.

dr. Rini menyarankan setiap anak menjalani pemeriksaan urine di laboratorium satu kali setiap tahun mulai usia tiga tahun hingga dewasa.

Menurutnya, bila ditemukan kelainan sejak dini, anak harus segera diperiksakan ke dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama untuk menjalani evaluasi lebih lanjut.

“Apabila diperlukan, pasien kemudian akan dirujuk ke dokter spesialis ginjal anak agar mendapatkan penanganan sesuai penyebab penyakitnya,” ujarnya.

Penanganan penyakit ginjal pada anak sangat bergantung pada jenis penyakit yang dialami. Terapi dapat berupa pemberian obat-obatan, tindakan pembedahan apabila ditemukan kelainan struktur maupun anatomi saluran kemih, hingga terapi pengganti ginjal berupa cuci darah pada kondisi tertentu.

“Jika dideteksi pada stadium dini, di mana struktur dan ukuran ginjal masih dalam batas normal, penyakit ginjal pada anak dapat ditangani dengan obat-obatan dan peluang sembuhnya jauh lebih besar,” kata dr. Rini.

Ia menambahkan, anak juga dapat menjalani prosedur cuci darah apabila memang sudah menjadi indikasi medis.

dr. Rini menegaskan, inti dari deteksi dini penyakit ginjal adalah menemukan kebocoran protein dalam urine sedini mungkin. Sebab, kebocoran protein yang dibiarkan berlangsung lama dapat menyebabkan kerusakan ginjal permanen hingga berujung pada gagal ginjal.

Ia mencontohkan keberhasilan Jepang dalam menekan angka gagal ginjal pada anak melalui program skrining urine yang dilakukan kepada seluruh anak mulai usia tiga tahun hingga dewasa.

“Rendahnya angka gagal ginjal di negara tersebut bukan karena anak-anak lebih jarang mengalami penyakit ginjal, melainkan karena penyakit dapat ditemukan lebih cepat, diobati lebih awal, dan dicegah agar tidak berkembang menjadi gagal ginjal,” jelasnya.

Pengalaman tersebut ia peroleh saat menempuh pendidikan doktor di Divisi Ginjal Anak, Hasil kajian mengenai sistem skrining urine di Jepang juga telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional sehingga dapat diakses oleh para peneliti dan tenaga kesehatan di berbagai negara.

Sebagai langkah pencegahan, dr. Rini mengimbau para orang tua menjaga kesehatan sejak masa kehamilan agar mengurangi risiko bayi lahir prematur maupun dengan berat badan lahir rendah.

Setelah anak lahir, orang tua dianjurkan membiasakan toilet training yang baik mulai usia tiga tahun, memenuhi kebutuhan cairan harian, menyajikan makanan rumahan dengan bahan alami, membatasi konsumsi makanan cepat saji dan makanan kemasan, mengajak anak beraktivitas fisik intensitas sedang hingga berat minimal satu jam setiap hari, serta membatasi screen time maksimal satu jam sehari untuk mencegah obesitas.

Selain menerapkan pola hidup sehat, pemeriksaan urine secara rutin setiap tahun hingga anak memasuki usia dewasa menjadi langkah sederhana yang dinilai mampu mencegah kerusakan ginjal permanen dan meningkatkan peluang kesembuhan apabila penyakit ditemukan sejak dini. (*)

Sumber:
https://jabar.tribunnews.com/kesehatan/1177743/skrining-urine-sejak-usia-3-tahun-dinilai-mampu-cegah-gagal-ginjal-pada-anak?page=2.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 Yayasan Siaga Tanggap Peduli (SIGGAP). All rights reserved.