
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG – Maraknya aksi kriminalitas yang terjadi belakangan ini di Kota Bandung, Jawa Barat, membuat banyak perempuan merasa waswas ketika harus beraktivitas hingga malam hari.
Rasa takut untuk pulang sendirian, memilih jalan yang sepi, hingga kekhawatiran menjadi korban kejahatan kini semakin sering dirasakan, terutama setelah berbagai kasus kriminal ramai diberitakan dan beredar luas di media sosial.
Psikolog sekaligus dosen Fakultas Psikologi Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Miryam A Sigarlaki, menilai fenomena tersebut merupakan respons psikologis yang wajar.
Menurutnya, rasa takut merupakan bagian dari sistem perlindungan diri manusia yang secara otomatis muncul ketika seseorang menangkap adanya ancaman.
“Secara psikologis, rasa takut ini sebenarnya bagian dari sistem perlindungan diri. Ketika seseorang mendengar atau melihat kejadian kriminalitas, otak secara otomatis akan meningkatkan kewaspadaan melalui respons fight, flight, atau freeze,” ujar Miryam saat dihubungi, Rabu (22/7/2026).
Ia menjelaskan, saat mekanisme tersebut bekerja, tubuh menjadi lebih siaga. Seseorang akan lebih sensitif terhadap suara di sekitarnya, kendaraan yang terasa mengikuti, orang yang mendekat, maupun kondisi jalan yang gelap.
Pada perempuan, kata Miryam, rasa takut tersebut cenderung lebih kuat karena adanya persepsi kerentanan terhadap berbagai bentuk kejahatan, mulai dari perampasan, kekerasan fisik hingga kekerasan seksual.
“Ketakutan pulang malam tidak boleh langsung dianggap sebagai kelemahan atau sikap yang berlebihan,” katanya.
Founder layanan psikologi digital Jatidiri.app ini mengatakan, derasnya arus informasi di media sosial juga berperan besar dalam meningkatkan kecemasan masyarakat.
Berita, video kriminalitas, pesan berantai, hingga cerita yang terus berulang dapat memunculkan availability bias, yakni kondisi ketika seseorang merasa suatu kejadian sangat mungkin menimpanya hanya karena sering melihat atau mendengarnya.
“Contoh kasus kriminalitas sekarang sangat banyak muncul di media sosial, entah benar-benar terjadi ataupun hasil rekayasa AI. Karena terus muncul dalam ingatan, ancaman yang sebenarnya belum tentu dekat menjadi terasa seolah-olah terjadi di mana-mana,” jelasnya.
Miryam menjelaskan, rasa takut masih tergolong normal apabila muncul pada situasi yang memang memiliki risiko, misalnya berkendara sendirian tengah malam melewati jalan yang sepi.
Dalam kondisi tersebut, rasa takut justru bersifat adaptif karena mendorong seseorang mengambil langkah perlindungan yang realistis, seperti memilih jalan yang lebih terang, meminta ditemani, atau menggunakan transportasi yang lebih aman.
Selain itu, rasa takut yang normal akan berkurang setelah seseorang berada di tempat yang aman dan tidak mengganggu pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, maupun aktivitas sehari-hari.
Sebaliknya, rasa takut perlu mendapat perhatian profesional apabila berlangsung terus-menerus, sulit dikendalikan, semakin berlebihan, dan mulai mengganggu fungsi kehidupan.
“Gangguan kecemasan ditandai oleh ketakutan atau kekhawatiran yang intens, sering disertai ketegangan fisik, perilaku menghindar, serta gangguan dalam aktivitas sehari-hari,” jelasnya.
Miryam mengatakan, gejala kecemasan berlebihan dapat muncul dari berbagai aspek. Dari sisi pikiran, seseorang terus membayangkan skenario terburuk, merasa semua orang mencurigakan, sulit berkonsentrasi, hingga terus-menerus memantau berita kriminal atau lokasi kejadian.
“Orang yang cemas biasanya terus memikirkan masa depan yang penuh ketidakpastian, lalu menariknya ke masa sekarang, sehingga seolah-olah ancaman itu sudah terjadi,” katanya.
Secara emosional, kecemasan dapat ditandai dengan rasa takut yang sangat kuat, mudah panik, gelisah, mudah tersinggung, sulit merasa aman, hingga merasa kehilangan kendali.
Sementara secara fisik, gejalanya dapat berupa jantung berdebar, napas pendek, berkeringat, gemetar, pusing, mual, sakit kepala, ketegangan otot terutama di leher dan bahu, gangguan tidur, serta kelelahan.
“Keluhan-keluhan tersebut merupakan gejala yang umum dijumpai pada gangguan kecemasan,” ujarnya.
Dari sisi perilaku, seseorang dapat mulai membatalkan seluruh aktivitas setelah sore hari, menolak bepergian meskipun ada keperluan penting, berulang kali memeriksa pintu rumah, lokasi keluarga, kendaraan, atau terus mencari kepastian bahwa dirinya aman.
Bahkan, sebagian orang mulai menghindari tempat yang sebenarnya relatif aman atau mengalami serangan panik ketika harus keluar rumah.
Menurut Miryam, evaluasi psikologis sebaiknya dilakukan apabila gejala tersebut berlangsung terus, semakin berat, mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan sosial, atau membuat seseorang tidak mampu menjalankan aktivitas secara normal.
Untuk mengurangi tekanan psikologis, Miryam menekankan bahwa langkah pertama bukan memaksa diri agar tidak takut, melainkan mengembalikan rasa memiliki kendali terhadap situasi.
Ia menyarankan masyarakat menyusun rencana keselamatan secara konkret, seperti menentukan rute utama dan alternatif, memilih jalan yang terang dan ramai, memastikan kendaraan serta telepon seluler dalam kondisi baik, hingga memberi tahu keluarga atau orang terdekat mengenai waktu keberangkatan dan perkiraan waktu tiba.
Apabila harus pulang larut malam, ia juga menganjurkan penggunaan buddy system atau pulang bersama teman, menggunakan transportasi yang identitas pengemudinya dapat dilacak, serta membagikan lokasi hanya kepada orang yang dipercaya
Selain itu, masyarakat disarankan menghindari penggunaan telepon genggam secara mencolok maupun memakai earphone yang dapat mengurangi kesadaran terhadap kondisi sekitar.
“Saat rasa cemas mulai meningkat, gunakan teknik regulasi napas sederhana, yaitu menarik napas selama empat hitungan, menahannya selama empat hitungan, kemudian mengembuskannya perlahan selama enam hitungan untuk membantu tubuh kembali lebih tenang,” ucapnya.
Miryam juga mengingatkan agar masyarakat tetap waspada tanpa terjebak kepanikan.
Menurutnya, prinsip utama adalah membangun kewaspadaan berdasarkan data dan informasi yang telah terverifikasi, bukan berdasarkan rumor atau pesan yang belum jelas kebenarannya.
Miryam pun menegaskan bahwa persoalan keamanan tidak boleh hanya dibebankan kepada perempuan dengan imbauan agar tidak keluar malam.
Menurutnya, keselamatan publik merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan pemerintah, aparat keamanan, pengelola transportasi, lingkungan kerja, komunitas, hingga masyarakat.
“Penerangan jalan, patroli, CCTV, transportasi malam yang aman, sistem pendampingan bagi pekerja malam, serta respons cepat terhadap laporan masyarakat akan jauh lebih membantu membangun rasa aman yang nyata,” katanya.
Sumber:
https://jabar.tribunnews.com/metro-bandung/1179229/rawan-begal-bikin-cemas-psikolog-ingatkan-perempuan-waspada-tanpa-panik-berlebih?page=3.
