
TRIBUNJABAR.ID, CIREBON– Pemandangan tak biasa terlihat di Embung Geyongan, Desa Geyongan, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, Rabu (5/8/2026).
Embung yang selama ini menjadi penopang irigasi bagi puluhan hektare lahan pertanian itu kini nyaris kering total.
Hamparan dasar embung berubah menjadi tanah retak-retak yang ditumbuhi rumput liar, sementara genangan air yang tersisa hanya berada di beberapa titik.
Pantauan di lokasi memperlihatkan sebagian besar dasar embung sudah mengering.
Dari atas tanggul beton, hamparan tanah yang pecah-pecah membentang luas.
Di beberapa bagian terlihat parit kecil, pipa-pipa panjang, serta mesin pompa yang masih bekerja menyedot sisa air untuk dialirkan ke lahan pertanian.
Kondisi tersebut semakin terlihat jelas saat kamera menyorot dari jarak dekat.
Rekahan tanah akibat kekeringan membentuk pola retakan besar, menandakan embung telah kehilangan sebagian besar cadangan airnya.
Petugas jaga Embung Geyongan, Mansur mengatakan, kondisi tahun ini merupakan yang paling parah dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurutnya, pada musim kemarau tahun lalu embung berukuran empat setengah hektar itu masih mendapatkan pasokan air sehingga tetap memiliki tampungan.
“Kalau tahun kemarin masih ada tampungan untuk pengisian embung di sini. Sekarang aliran dari arah Giwangan tidak memungkinkan mengisi embung karena debit airnya kecil dan jaraknya sekitar 18 kilometer,” ujar Mansur saat ditemui di lokasi, Rabu (5/8/2026).
Ia menjelaskan secara teknis air dari saluran tersebut sebenarnya masih dapat dialirkan ke embung.
Namun, karena debitnya sangat kecil dan jaraknya cukup jauh, pasokan yang masuk tidak mampu mengisi embung secara maksimal.
Akibat kondisi tersebut, pasokan air bagi petani mulai terganggu.
Embung Geyongan yang selama ini menjadi sumber irigasi untuk lahan pertanian di Desa Geyongan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan air secara optimal.
“Dampaknya banyak sekali. Petani kekurangan air, padahal mereka masih membutuhkan air yang cukup banyak untuk sawahnya,” ucapnya.
Lahan 20 Hektare Terdampak
Ia menjelaskan Embung Geyongan memiliki kapasitas tampungan maksimal sekitar 70.400 meter kubik dengan tinggi muka air sekitar 1,56 meter.
Embung ini dirancang untuk mengairi sekitar 60 hektare lahan pertanian yang seluruhnya berada di wilayah Desa Geyongan.
“Embung ini khusus mengairi pertanian di wilayah Geyongan saja, sekitar 60 hektare,” jelas dia.
Menurut Mansur, penyusutan air mulai terjadi sejak awal Juni 2026.
Sebelumnya, pada April hingga Mei, embung masih menyimpan cadangan air yang cukup.
“April dan Mei masih ada air. Juni mulai berkurang, lalu Juli sudah parah,” katanya.
Kini, sisa air yang masih bertahan hanya bisa dimanfaatkan melalui sistem penggiliran.
Air dipompa setiap empat hari sekali, namun jumlahnya sangat terbatas sehingga hanya mampu mengairi area di sekitar embung.
“Pengisian dilakukan empat hari sekali, tapi airnya hanya bertahan sekitar satu sampai dua hari. Tingginya juga paling sekitar 30 sampai 40 sentimeter,” ujarnya.
Dari total 60 hektare lahan yang dilayani embung, sekitar 20 hektare mulai terdampak kekurangan pasokan air.
Sementara sebagian lahan lainnya masih terbantu oleh suplai air dari jaringan irigasi Rentang.
“Yang terdampak sekitar 20 hektare. Sebagian lahan di belakang masih terbantu dari irigasi Rentang,” ujarnya.
Mansur mengaku, keluhan dari para petani terus berdatangan seiring menipisnya cadangan air di embung.
Karena itu, pihak pengelola berupaya mencari solusi agar kebutuhan air tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.
“Keluhan petani banyak sekali. Solusinya harus ada pompanisasi dari saluran irigasi terdekat supaya embung tetap mendapat suplai air,” ucap Mansur.
Namun, langkah tersebut membutuhkan biaya tambahan yang tidak sedikit.
“Betul sekali, konsekuensinya memang menambah biaya,” jelas dia.
Ia berharap cuaca segera berubah sehingga pasokan air kembali normal. (*)
Sumber:
https://jabar.tribunnews.com/cirebon/1180626/puluhan-hektare-sawah-di-cirebon-kekurangan-air-setelah-embung-geyongan-nyaris-kering-total?page=3.
