
Potret pendidikan Indonesia pada 2025-2026 masih diwarnai kesenjangan kualitas yang signifikan antara daerah, di mana 59% bangunan sekolah mengalami kerusakan, terutama tingkat SD. Data juga menunjukkan 40,76% pelajar (usia 10–23 tahun) harus bekerja, serta sekitar 69,1 juta jiwa penduduk belum pernah mengenyam pendidikan formal.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai potret pendidikan di Indonesia:
Infrastruktur Rusak dan Tidak Layak: Di berbagai daerah, terutama di pedalaman, masih banyak sekolah dengan ruang kelas rusak berat, atap bocor, dan fasilitas minim (kursi/meja terbatas).
Kesenjangan Kualitas Antar Daerah: Kualitas pendidikan masih belum merata, terutama di daerah pelosok seperti Papua, dibandingkan dengan kota besar.
Pendidikan dan Bekerja: Pada tahun 2025, sekitar 4 dari 10 siswa usia 10–23 tahun terpaksa bekerja, yang menunjukkan tantangan ekonomi yang memengaruhi kelangsungan studi.
Angka Putus Sekolah dan Akses: Sebagian besar penduduk masih belum mengenyam pendidikan formal, menunjukkan angka partisipasi kasar yang belum maksimal.
Masalah Literasi dan Kualitas Guru: Selain fasilitas, tantangan serius lainnya adalah rendahnya tingkat literasi dasar siswa dan kualitas pengajar yang belum merata.
Tantangan utama yang dihadapi adalah ketidakmerataan akses, rendahnya kualitas fasilitas/infrastruktur, dan kurikulum yang perlu penyesuaian dengan kebutuhan lapangan kerja.
Referensi:
situs Universitas Muhammadiyah Jakarta – UMJ dan FKIP UMSU
