
Bandung Barat – Langit di Kabupaten Bandung Barat (KBB) sedang cerah, sorot matahari langsung menyentuh tubuh bocah-bocah yang berbaris rapi di depan kelas SD Negeri Giriasih, Desa Batulayang, Kecamatan Cililin.
Sebagian lagi sedang berlarian di lapang olahraga sekolah. Pemandangan yang lumrah ditemui di belahan daerah manapun. Ada pula anak-anak yang memilih diam di kelas, malas kepanasan.
Salah satunya Muhammad Al-Gibran, siswa kelas 3. Ia memilih ngobrol dengan teman sebangkunya setelah pelajaran selesai. Buku-buku sudah dimasukkan ke dalam tas, maklum siswa kelas 3 pulang lebih awal ketimbang kakak kelasnya.
Namun yang sama-sama mereka punya, adalah semangat menuntut ilmu. SDN Giriasih ada di atas gunung, aksesnya amat terjal. Beruntung sekarang sedang musim hujan, bisa dibayangkan bahayanya jalan beralas tanah merah yang harus mereka lalui jika tiba musim hujan.
“Kalau dari rumah sekitar 30 menit, jalan kaki. Jadi saya berangkat jam 6 pagi, sampai sekolah itu jam 6.30 WIB,” kata Gibran, saat berbincang dengan detikJabar, Selasa (12/5/2026).
Sempat di suatu waktu, ia terpaksa bolos sekolah. Hujan deras mengguyur sejak malam hingga pagi hari, tak ada tanda-tanda bakal reda. Jalan licin, ada longsor kecil, tak mungkin orangtuanya memberikan izin.
“Pernah, kalau hujan enggak reda jadinya enggak masuk sekolah. Sama gurunya juga enggak apa-apa. Kalau hujan jalannya licin,” kata Gibran.
enada dengan Gibran, kondisi serupa juga dialami Azzahra Salsabila (12), siswa kelas 6. Saban pagi, ia dan teman-temannya menapaki jalan setapak menuju sekolah yang cuma beberapa ratus meter menuju puncak gunung.
Agar tak terlambat, ia tentunya berangkat sejak pagi. Paling siang, jam 6 pagi ia sudah harus berangkat sekolah. Mereka melewati hutan-hutan sebelum bisa duduk di bangku kelas yang nyaman. Tak ada keluhan sama sekali, semua dilakukan atas dasar keikhlasan dan tanggungjawab.
“Sudah biasa, tiap hari jalan ke sekolah. Sekitar 30 menit jalan kaki, soalnya enggak bisa naik motor. Bareng sama teman-teman jalan kaki ke sekolahnya,” ucap Azzahra.
Perjalanan tak biasa yang ditempuh para siswa, kemudian melahirkan ketentuan khusus. Ada pertimbangan tersendiri dari para guru ketika kondisi anak-anak memang tak memungkinkan bisa masuk sekolah.
“Dari Kampung Gabus Hilir misalnya, itu akses jalannya cuma satu. Pernah karena tertutup longsor, ortu gotong royong membersihkan dan memperbaiki akses. Malanya kita pihak sekolah, enggak selalu memaksakan anak harus masuk apalagi kalau cuaca ekstrem,” kata Eli Sri Wahyuni, salah seorang guru SDN Giriasih.
Sekolah yang berdiri di tahun 1980-an itu jadi satu-satunya SD negeri buat warga beberapa kampung di atas gunung. Kendati perlu perjuangan ekstra, namun semangat guru dan siswanya tak perlu dipertanyakan.
“Kebetulan saya alumni SD ini juga, sekarang mengabdi di sini. Mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah buat kami di sini,” kata Sri.
Sumber:
https://www.detik.com/jabar/berita/d-8486211/perjuangan-anak-gunung-kejar-ilmu-di-sekolah-atas-awan.
