
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG – Produksi teh Jawa Barat mencapai sekitar 80 ribu ton setiap tahun, namun sebagian besar masih diekspor dalam bentuk teh curah dengan nilai tambah rendah.
Kondisi ini membuat nilai ekspor teh Indonesia tertinggal jauh dibandingkan komoditas perkebunan lain seperti kopi dan kakao, meski menjadi salah satu produsen teh terbesar di dunia.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang kini mendorong transformasi industri teh melalui hilirisasi, peningkatan kualitas, hingga penguatan branding agar mampu bersaing di pasar global.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Barat, Nining Yuliastiani, mengatakan penguatan daya saing teh menjadi agenda penting karena Indonesia, khususnya Jawa Barat, merupakan salah satu produsen teh terbesar di dunia.
“Tujuan kita adalah bagaimana meningkatkan daya saing teh kita agar lebih kompetitif, baik di pasar domestik maupun internasional,” ujar Nining dalam kegiatan Wise Talks, Jumat (24/7/2026).
Ia menjelaskan, Jawa Barat menjadi tulang punggung produksi teh nasional dengan kapasitas sekitar 80 ribu ton setiap tahun.
Meski demikian, besarnya produksi tersebut belum berbanding lurus dengan nilai perdagangan yang dihasilkan.
Nining menyebutkan, volume ekspor teh Indonesia rata-rata mencapai sekitar 30 ribu ton per tahun dengan nilai ekspor sekitar 48,47 juta dolar AS.
Angka tersebut masih jauh tertinggal dibandingkan komoditas perkebunan lain seperti kopi maupun kakao.
“Kalau dibandingkan dengan kopi, kuantitas ekspornya memang lebih kecil, tetapi nilai ekspornya bisa tiga kali lipat dibandingkan teh. Bahkan kakao dengan volume yang lebih kecil lagi mampu menghasilkan nilai ekspor yang jauh lebih besar,” kata Nining Yuliastiani.
Nining menilai rendahnya nilai ekspor tersebut disebabkan sebagian besar teh Indonesia masih dipasarkan dalam bentuk bulk tea atau teh curah sebagai bahan baku.
Produk tersebut kemudian diolah kembali oleh negara lain sehingga nilai tambah justru dinikmati di luar negeri.
Padahal, pasar ekspor teh Jawa Barat sudah cukup luas. Untuk teh hitam, tujuan ekspor antara lain Malaysia, Rusia, dan Amerika Serikat.
Sementara teh hijau dipasarkan ke sejumlah negara Eropa seperti Polandia dan Jerman. Adapun teh esens diekspor dalam jumlah terbatas ke Thailand.
“Karena yang dijual sebagian besar masih berupa teh curah, secara kuantitas memang besar, tetapi nilai yang kita peroleh masih rendah,” ujar Nining Yuliastiani.
Melihat perubahan tren konsumsi dunia, Nining menilai sudah saatnya industri teh Indonesia beralih dari sekadar menjual bahan baku menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Ia menyebut permintaan global kini semakin mengarah pada produk specialty tea, teh organik, produk kesehatan (wellness), hingga minuman siap konsumsi atau ready to drink.
“Yang harus kita tingkatkan adalah added value produk teh. Hilirisasi menjadi sangat penting sehingga kita tidak hanya menjual teh curah, tetapi menghasilkan produk-produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi,” katanya.
Meski demikian, upaya hilirisasi masih menghadapi sejumlah tantangan. Dari sisi hulu, produktivitas perkebunan teh terus mengalami penurunan. Luas lahan juga semakin berkurang, sementara regenerasi petani teh dinilai masih rendah.
“Tantangan kita bukan hanya di hilir, tetapi juga bagaimana memperbaiki persoalan struktural di sektor perkebunan, mulai dari produktivitas, kualitas bahan baku, regenerasi petani hingga pemanfaatan teknologi,” ujar Nining Yuliastiani.
Ia juga menyoroti masih rendahnya investasi di sektor teh, baik di tingkat perkebunan maupun industri pengolahan.
Belum optimalnya branding produk teh Indonesia turut membuat daya saing produk kalah dibandingkan negara produsen lain seperti India, Sri Lanka, maupun Cina yang dinilai berhasil membangun citra produknya di pasar internasional.
Menurut Nining Yuliastiani, perubahan standar perdagangan global juga menjadi tantangan baru yang harus segera diantisipasi.
Saat ini, negara tujuan ekspor semakin ketat menerapkan berbagai persyaratan non-tarif, mulai dari keamanan pangan, batas residu pestisida, sistem ketertelusuran (traceability), sertifikasi, hingga aspek keberlanjutan dan kepatuhan terhadap prinsip Environmental, Social and Governance (ESG).
“Ke depan akan semakin sulit menawarkan produk teh apabila kita tidak melakukan langkah yang lebih progresif. Konsumen global sekarang ingin memastikan produk yang mereka konsumsi aman, berkelanjutan, memiliki traceability, dan memenuhi standar food safety,” katanya.
Menurutnya diperlukan dukungan kelembagaan agar petani dapat memenuhi berbagai persyaratan tersebut, mengingat sebagian besar pekebun teh merupakan petani rakyat dengan kapasitas yang masih terbatas.
Data Disperindag Jawa Barat menunjukkan sekitar 50 persen perkebunan teh di Jawa Barat merupakan perkebunan rakyat yang hasilnya diolah oleh industri kecil dan menengah (IKM).
Oleh sebab itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu fokus pemerintah agar petani dan pelaku usaha mampu menghasilkan produk teh berkualitas tinggi dengan nilai jual yang lebih baik.
Selain peningkatan kualitas produk, Nining juga menekankan pentingnya inovasi dalam desain kemasan, branding, digitalisasi pemasaran, perluasan akses pasar, hingga dukungan pembiayaan yang lebih terintegrasi.
“Kami ingin membangun rantai pasok yang terintegrasi sehingga produksi yang baik di tingkat petani bisa diikuti industri pengolahan yang mampu memenuhi kebutuhan pasar dan akhirnya meningkatkan nilai jual produk teh Jawa Barat,” ujar Nining Yuliastiani.
Di sisi lain, pemerintah terus memperluas promosi dan menjalin komunikasi dengan buyer maupun trader dari berbagai negara untuk membuka peluang pasar baru bagi produk teh Jawa Barat.
Nining berharap sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan dapat menjadi langkah bersama dalam memperkuat posisi teh Indonesia di pasar dunia.
Sumber:
https://jabar.tribunnews.com/bisnis/1179450/nilai-ekspor-teh-jawa-barat-tertinggal-jauh-dari-kakao-ternyata-ini-penyebabnya?page=2.
