
Yayasan SIGGAP – Pada hari ini kami turut mengucapkan Selamat Hari Kesiapsiagaan Bencana 26 Desember 2026, pada momentum ini kami Yayasan Siaga Tanggap Peduli – SIGGAP berbagi informasi terkait Sesar Lembang yang terletak di Bandung, Sesar Lembang sepanjang 29 km berada di Utara Bandung.
Para ahli dan peneliti dari berbagai instansi melakukan riset Sesar Lembang. Di antaranya tim peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI dan PVMBG di Bandung. Tim itu terdiri dari pakar gempa bumi Danny Hilman Natawidjaja, Mudrik R. Daryono, Sri Hidayati, Supartoyo, dan Akhmad Solikhin.
Dari penelitian tersebut diperoleh fakta bahwa.
Pertama
Hasil pengukuran GPS sesar ini bergerak 3 Sampai 5,5 milimeter per tahun. Menunjukkan bahwa sesar ini masih aktif. Walaupun sebelumnya sempat dipercaya sebagian peneliti dan ahli gempa sebagai sesar yang tidak aktif.
Kedua
Sesar Lembang Terbentang 29 Kilometer
Berada di utara cekungan Bandung, Sesar Lembang memanjang berarah barat-timur. Riset sebelumnya menyebutkan panjang sesar itu berkisar 20-27 kilometer. Penelitian mutakhir yang dibantu teknologi penginderaan jarak jauh LIDAR (Light Detection and Ranging), total panjangnya diketahui 29 kilometer dan terbagi menjadi beberapa segmen atau potongan.
Titik nolnya dimulai dari barat berada di daerah Padalarang kemudian melewati Ngamprah, Cihideung, Lembang, dan Bukit Batu Lonceng. Ujung timurnya di Desa Cipanjalu, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.
Ketiga
Kekuatan gempanya bermagnitudo 7
Dengan panjang 29 kilometer, kekuatan gempa Sesar Lembang berkisar 6,4 hingga bermagnitudo 7,0. Namun karena terbagi dalam beberapa segmen, kekuatan gempanya bisa berbeda.
Peneliti dari Kelompok Keahlian Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) Irwan Meilano pada diskusi Sesar Lembang di Badan Geologi, segmen patahan Lembang dan potensi kekuatan gempanya belum diteliti rinci, pun riwayat kejadian gempa segmen itu belum diketahui.
Keempat
Kondisi batuan Bandung, Berdasarkan pemetaan seismotektonik di wilayah Bandung oleh Badan Geologi, Kota Bandung disusun oleh batuan sedimen Tersier yang bersifat padu dan keras pada bagian bawah dan ditutupi oleh batuan sedimen gunung api di bagian utara. Adapun wilayah selatan Bandung kata peneliti Pusat Survei Geologi Muchamad Wahyudiono, diliputi sedimen atau endapan danau berumur Kuarter yang bersifat lunak dan urai.
Kelima
Historis gempa Sesar Lembang merusak hunian warga,
Peneliti lain dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI di Bandung, Eko Yulianto, sebelumnya pernah memperkirakan gempa dari Sesar Lembang pernah terjadi pada 500 ribu tahun lalu dan 2.100 tahun silam.
Catatan kejadian gempa Sesar Lembang seperti di Kampung Muril dekat Gunung Burangrang dan Cisarua pada 2011 membuat beberapa hunian warga rusak. Pergerakan Sesar Lembang saat itu menimbulkan gempa bermagnitudo 3.
Kami coba menggali lagi data kegempaan melalui database USGS. Untuk zona seluruh Jawa Barat tercatat lebih dari 350x gempa diatas M4,5 dengan kedalaman dangkal hingga menengah sejak tahun 1900.
Namun untuk zona Sesar Lembang dan Bandung sendiri hanya tercatat 17x kegempaan diatas M4,5.
Dari beberapa fakta diatas, bisa disimpulkan bahwa memang Sesar Lembang masih aktif.
Melihat populasi penduduk wilayah ini, bukan suatu hal yg mustahil jika gempa intensitas kecil saja akan dapat menimbulkan dampak buruk pada warga Bandung dan sekitarnya. Tentunya hal ini tergantung pada kesiapan masyarakat lokal terhadap mitigasi.
Apa yang harus dipersiapan oleh masyarakat disekitaran sesar tersebut?
Saat terjadi gempa Sesar Lembang, tindakan utama adalah tetap tenang, tidak panik, dan segera melakukan prinsip Drop, Cover, Hold On (Merunduk, Berlindung, dan Bertahan) di bawah meja kokoh. Hindari bangunan kaca, segera menuju titik kumpul terbuka, matikan listrik/gas, dan bawa Tas Siaga Bencana.
Berikut panduan langkah demi langkah berdasarkan rekomendasi mitigasi bencana:
1. Saat Gempa Berlangsung
Di Dalam Ruangan: Merunduk (Drop), lindungi kepala di bawah meja kuat atau area “segitiga kehidupan” (sudut ruangan/dinding struktural), dan bertahan (Hold On) hingga guncangan berhenti. Jauhi kaca, lemari, dan benda gantung.
Di Luar Ruangan: Hindari bangunan tinggi, tiang listrik, pohon, atau papan reklame. Cari tempat terbuka.
Di Dalam Kendaraan: Pinggirkan kendaraan ke kiri, berhenti, dan tetap di dalam mobil hingga gempa reda.
2. Sesaat Setelah Gempa Berhenti
Evakuasi Teratur: Segera keluar ruangan melalui tangga darurat (jangan gunakan lift) menuju titik kumpul yang aman, seperti yang diarahkan oleh BPBD.
Matikan Potensi Bahaya: Matikan kompor, aliran listrik, dan gas untuk mencegah kebakaran.
Periksa Diri dan Sekitar: Periksa cedera pada diri sendiri dan orang sekitar. Berikan pertolongan pertama jika mampu.
3. Tindakan Lanjutan
Waspada Susulan: Siap-siap untuk gempa susulan yang mungkin terjadi.
Pantau Informasi Resmi: Gunakan radio atau media sosial resmi (BMKG/BPBD) untuk informasi terkini, hindari hoaks.
Gunakan Tas Siaga Bencana: Pastikan Tas Siaga Bencana yang berisi dokumen penting, senter, air minum, dan obat-obatan mudah dijangkau.
Masyarakat di wilayah terdampak (seperti Bandung Raya, Lembang, Cimahi, Purwakarta) diimbau mengenali jalur evakuasi dan titik kumpul di lingkungan masing-masing.
Tentunya kita berharap dan berdoa semoga itu tidak terjadi.
Tulisan ini semata-mata hanya sebagai penambah wawasan kita tentang zona rawan gempa di Indonesia.
Sumber :
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM)
Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD)
