TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN – Tumpukan batang daun kelapa berserakan di depan rumah sederhana di Blok Warung Bungur, RT 1/6, Dusun Empangsari, Desa Kalipucang, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Di atas kursi roda, Mansur (65) membungkuk. Tangannya perlahan meraut batang-batang daun kelapa itu menjadi sapu lidi.

Gerakannya tak lagi secepat dulu. Namun, satu per satu lidi tetap ia kerjakan.

Dari pekerjaan sederhana itulah kini Mansur dan istrinya, Karsem (60), berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari setelah harta mereka habis untuk biaya pengobatan.

Setahun lalu, Mansur masih bekerja sebagai sopir mobil yang mengantar gula kelapa lintas provinsi.

Kini, kondisi tubuhnya membuat pekerjaan itu tak lagi bisa dilakukan.

Mansur harus berjuang melawan tumor ganas yang bersarang di tubuhnya. Benjolan yang muncul hingga dua atau tiga sekaligus kerap menimbulkan nyeri hebat.

“Ada benjolan, tumor ganas katanya. Kalau sudah kerasa, waduh enggak sebandinglah nyerinya, ya Allah,” ujar Mansur kepada sejumlah wartawan di depan rumah kecilnya, Jumat (18/9/2026) pagi.

Sejak 2025, ia harus bolak-balik dari Pangandaran ke RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, Banyumas, Jawa Tengah, untuk menjalani pengobatan.

Mansur sudah menjalani operasi dan perawatan selama 10 hari.

Setelah itu, ia masih harus menjalani kemoterapi sebanyak 12 kali, dengan jadwal dua kali dalam sebulan selama enam bulan.

Jarak Pangandaran-Banyumas yang ditempuh sekitar tiga jam tak lagi dilalui menggunakan mobil. Keterbatasan biaya membuat Mansur dan Karsem memilih sepeda motor.

Karsem menjadi pengemudinya. Mereka harus berangkat sekitar pukul 04.00 WIB agar tiba di rumah sakit sekitar pukul 07.00 WIB.

“Mau pakai mobil sudah enggak ada dana. Jadi pakai motor saja. Kata bapak nanti gantian nyupirnya,” katanya.

Biaya sewa mobil sekitar Rp 600.000 sekali perjalanan, belum termasuk uang makan sopir sekitar Rp 200.000. Nominal itu sudah terlalu berat bagi mereka.

Beban mereka bertambah ketika luka bekas operasi kembali terbuka sekitar 10 hari setelah penutupan. Mansur pun harus kembali ke Banyumas hingga lima kali untuk mendapatkan perawatan.

Biaya perjalanan, obat-obatan, dan kontrol sedikit demi sedikit menghabiskan harta yang selama ini menjadi penopang hidup mereka.

“Iya, jual motor dua buat pengobatan dia. Kebun habis semua. Makanya sekarang berjuangnya gini, sudah buat makan,” ucap Karsem sambil menahan air mata.

Ketika uang benar-benar tak tersisa, Karsem terpaksa meminjam kepada tetangga.

Bantuan sosial Kartu Merah Putih sebesar Rp 600.000 setiap tiga bulan yang diterimanya pun tak banyak membantu karena habis digunakan untuk membayar utang.

Kini Mansur tak lagi mampu kembali ke pekerjaan lamanya sebagai sopir. Sebagian besar waktunya dihabiskan di atas kursi roda.

Sesekali ia memaksakan diri membuka jasa tambal ban di sekitar rumah. Pekerjaan itu menjadi salah satu pilihan yang masih mampu dilakukannya.

“Kalau enggak gitu gimana lagi. Jadi dia maksa nambal ban. Kalau ada yang mau nyuci mobil dia belum sanggup. Ini sanggupnya nambal doang,” ujarnya.

Sementara itu, Karsem mencari penghasilan dengan cara lain. Ia berjalan jauh menuju perbukitan untuk mencari gadung dan bahan pembuat sapu lidi.

Gadung yang dikumpulkannya kemudian diolah menjadi keripik dan dijual dengan harga sekitar Rp 60.000 per kilogram.

Di rumah, Mansur meraut batang daun kelapa menjadi lidi. Keterbatasan fisik membuat pembagian pekerjaan mereka berubah, tapi keduanya tetap berusaha agar dapur tetap mengepul.

Bagi pasangan ini, sapu lidi dan keripik gadung bukan sekadar pekerjaan. Keduanya menjadi cara untuk bertahan setelah biaya pengobatan menguras tabungan, kendaraan, hingga kebun yang mereka miliki.

Meski begitu, Mansur bersyukur kondisi nyerinya kini jauh lebih baik setelah menjalani operasi.

“Alhamdulillah, satungtung tos dioperasi, alhamdulillah pada tiis,” ucapnya dalam bahasa Sunda.

Oktober mendatang, Mansur dijadwalkan kembali menjalani kontrol di Banyumas. Mereka berharap kunjungan tersebut menjadi perjalanan terakhir untuk pengobatan.

Sementara menunggu jadwal itu, Mansur dan Karsem terus bertahan di rumah sederhana mereka.

Mansur meraut lidi dari atas kursi roda. Karsem mencari gadung ke perbukitan.(*)

Sumber:
https://jabar.tribunnews.com/jabar-region/1184734/kisah-pilu-mansur-warga-pangandaran-harta-habis-demi-obat-tumor-ganas-kini-bertahan-dari-sapu-lidi?page=2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 Yayasan Siaga Tanggap Peduli (SIGGAP). All rights reserved.