TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG – Mimpi Mutiara Putri Azzahra nyaris berhenti sebelum dimulai. Keterbatasan ekonomi membuat putri seorang penjual tahu keliling di Bandung itu sempat mengurungkan niat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Namun, kerja keras, doa, dan keyakinannya justru membawanya diterima di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB) di Kota Bandung, Jawa Barat, melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).

Putri bungsu pasangan Saptono dan Suci yang sehari-hari berjualan tahu keliling itu tak ingin menambah beban kedua orang tuanya. Meski memiliki prestasi akademik yang baik, ia sempat mengubur keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

“Niat awal saya ingin bekerja karena melihat kondisi ekonomi keluarga sepertinya belum memungkinkan untuk kuliah,” ujar Mutiara melalui keterangan yang diterima, Kamis (23/7/2026).

Kesempatan justru datang ketika Mutiara dinyatakan memenuhi syarat mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Guru-gurunya di SMA Plus Al-Ghifari Bandung terus mendorongnya agar mencoba mendaftar ke perguruan tinggi dan tidak menyia-nyiakan peluang tersebut.

Dorongan itu membuat Mutiara mulai berani bermimpi. Bersama sang ayah, ia berdiskusi mengenai jurusan yang sesuai dengan minatnya.

“Saya memang menyukai mata pelajaran sains, terutama biologi dan kimia. Kemudian ayah menyarankan mencoba mendaftar ke Institut Teknologi Bandung dan alhamdulillah diterima,” katanya.

Kabar kelulusan itu menjadi momen yang mengubah pandangan Mutiara tentang masa depannya.

Ia mengaku tidak pernah benar-benar yakin akan diterima di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia tersebut. Baginya, mengikuti SNBP hanyalah ikhtiar. Selebihnya, ia menyerahkan hasil kepada Tuhan.

Di balik keberhasilannya, ada perjuangan yang dijalani dalam diam.

Tidak seperti sebagian teman-temannya yang mengikuti bimbingan belajar, Mutiara mengandalkan pelajaran di sekolah dan belajar secara mandiri di rumah.

Hampir setiap malam ia menghabiskan waktu untuk mengulang materi hingga larut. Ketika menemui pelajaran yang sulit dipahami, ia mencari penjelasan melalui berbagai sumber di internet, termasuk video pembelajaran di YouTube.

Keterbatasan ekonomi memang membuat keluarganya tidak mampu membiayai les. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat Mutiara untuk terus belajar.

Saptono mengaku sejak awal melihat kesungguhan putrinya dalam menuntut ilmu.

Sebagai seorang ayah, ia hanya mampu memberikan dukungan sesuai kemampuannya. Salah satunya dengan membelikan buku panduan belajar agar Mutiara bisa belajar secara mandiri.

“Itikad dan kemauan Mutiara sangat kuat. Akhirnya, saya membelikannya buku panduan,” ujar Saptono.

Ia masih mengingat bagaimana putrinya sering belajar hingga larut malam. Saat menemui materi yang belum dipahami, Mutiara tidak mudah menyerah. Ia akan mencari berbagai referensi hingga benar-benar mengerti.

Kesibukan belajar tidak membuat Mutiara melupakan kegiatan lainnya. Di sekolah, ia aktif dalam organisasi Dewan Kemakmuran Masjid (DKM).

Sepulang sekolah, ia juga menyempatkan diri mengajar mengaji secara privat kepada anak-anak taman kanak-kanak.

Menjelang pengumuman SNBP yang bertepatan dengan bulan Ramadan, keluarga kecil itu memperbanyak doa. Saptono mengajak putrinya memanfaatkan malam-malam terakhir Ramadan untuk memohon petunjuk dan kemudahan kepada Allah SWT.

“Saya mengatakan kepada anak saya, ‘Manfaatkan malam Lailatulqadar dan mintalah petunjuk kepada Allah karena segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya’,” katanya.

Doa itu seolah terjawab ketika pengumuman SNBP diumumkan. Nama Mutiara dinyatakan lolos dan diterima di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB.

Saptono mengaku sulit menggambarkan kebahagiaan yang dirasakannya saat itu.

“Saya hanya dapat mengucapkan syukur, lalu sujud syukur. Sesuatu yang seolah-olah tidak mungkin, ketika Allah menentukan, ternyata dapat terjadi,” ujarnya.

Kebahagiaan itu sempat dibayangi kekhawatiran mengenai biaya kuliah. Namun, Saptono memilih tetap percaya bahwa selalu ada jalan bagi anak yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu.

Harapan itu akhirnya datang ketika Mutiara memperoleh bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Baginya, bantuan tersebut menjadi penyemangat sekaligus membuatnya dapat lebih fokus menjalani pendidikan tanpa terus memikirkan persoalan biaya.

Selain bantuan pendidikan, Mutiara merasa perjalanan menuju bangku kuliah tidak akan mungkin terwujud tanpa dukungan kedua orang tuanya. Meski hidup dalam keterbatasan, Saptono dan Suci selalu memberikan semangat, doa, dan berusaha memenuhi kebutuhan pendidikan putrinya semampu mereka.

Dukungan juga datang dari keluarga besar, guru-guru, teman-teman, hingga para tetangga yang terus menyemangatinya selama mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi.

Kini, setelah resmi menjadi calon mahasiswa FMIPA ITB, Mutiara membawa satu tekad besar. Ia ingin menyelesaikan kuliahnya tepat waktu, memperoleh pekerjaan yang baik, dan kelak membalas seluruh perjuangan kedua orang tuanya.

Sumber:
https://jabar.tribunnews.com/metro-bandung/1179341/kisah-inspiratif-mutiara-putri-penjual-tahu-keliling-yang-lolos-fmipa-itb-lewat-snbp?page=2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 Yayasan Siaga Tanggap Peduli (SIGGAP). All rights reserved.