Sumedang – Suara tepuk tangan berselingan dengan gelak tawa memenuhi ruangan Aula Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan Negeri (SMK PPN) Tanjungsari, Kamis (11/6/2026). Di ruangan itu, siswa-siswa menonton kabaret dengan beragam judul. Sebagian mondar-mandir dari satu stan ke stan lainnya yang menampilkan karya seni rupa.
Beberapa siswa ada yang di luar pintu aula bersiap-siap untuk pentas. Mereka mengenakan kostum yang disesuaikan dengan judul kabaret. Judul-judul yang akan dipentaskan mulai dari cerita rakyat, cerita mitologi, hingga kisah-kisah menjelang kemerdekaan RI.

Suasana pentas seni itu sangat meriah, meski digelar di dalam area sekolah. Pentas itu menjadi magnet bagi siswa-siswa lainnya. Termasuk bagi orang tua dan masyarakat umum. Ini juga merupakan agenda tahunan. Menariknya, pentas dan pameran seni rupa ini merupakan bagian dari ujian pelajaran seni budaya digabung dengan pelajaran sejarah, khusus untuk Kelas 10.

Hal ini karena pelajaran seni hanya ada di Kelas 10. Maka, pentas dan pameran ini merupakan ‘perpisahan’ dengan pelajaran tersebut. Setiap kelas dari angkatan ‘Kelas 10’ ini menampilkan satu judul teater kabaret, membuat seni rupa lukisan, seni rupa kerajinan tangan, dan seni musik.

“Ini adalah ujian praktik pelajaran seni bekerja sama dengan guru pelajaran sejarah untuk kelas 10. Angkatan ini ada 12 kelas. Jadi setiap kelas mengirimkan empat karya seni,” kata guru pelajaran seni-budaya di SMK PPN Tanjungsari, Rangga Budiansyah.

Dengan 12 kelas yang ikut ujian, maka ada pula 12 stan yang menampilkan karya-karya seni rupa. Karya seni rupa ini meliputi lukisan dan kerajinan tangan. Karya-karya itu menunjukkan keseriusan dan ketelatenan para siswa.

“Yang seni rupa, itu lukisan dan kerajinan tangan berupa miniatur jurusan (di SMK PPN) misalnya jurusan perikanan,” katanya.

Menariknya, kerajinan tangan berupa miniatur jurusan dibuat dengan sebagian besar menggunakan barang-barang bekas.

Lukisan Surealis hingga K-Pop

Rangga Budiansyah adalah lulusan STSI Bandung (sekarang ISBI) dan telah dua tahun mengajar di SMK PPN Tanjungsari. Sejak awal dia di sekolah ini, ujian seni telah dibuat menjadi pentas dan pameran.

“Bisa menjadi seperti ini karena para siswa sebelumnya ‘diseleksi’ bakat mana yang menonjol, kemudian bakat itu dikuatkan,” katanya.

Yang dipamerkan di antaranya adalah lukisan-lukisan di atas kanvas, dan juga gambar di atas kertas. Pada pentas dan pameran yang terselenggara Kamis (11/6/2026), detikJabar menikmati banyak sekali gambar dan lukisan yang dipamerkan.

Di antaranya ada lukisan realis seekor kuda yang sedang berlari. Kuda itu legam hitam dan tampak debu berterbangan di kakiknya yang menghentak. Ekornya menjurai. Dia berlari seperti kuda perang yang memburu waktu.

Lukisan lainnya ada yang surealis, di mana dua entitas mirip manusia berada di dalam air. Tubuh keduanya bercahaya, dan keduanya dihubungkan dengan benang-benang cahaya. Mirip seorang ayah yang sedang melakukan transfer cahaya kepada anak perempuannya.

Selain lukisan-lukisan yang serius itu, ada pula gambar di atas kertas menggunakan pensil yang menampilkan sosok idola K-Pop, James dari boyband Cortis. Gambar ini dibuat oleh Anjani Rahmawati (15), salah satu peserta ujian pelajaran seni di SMK PPN Tanjungsari itu.

Gambar itu detail. Mulai dari helai-helai rambut hingga kerutan kulit pada sendi jemari tangan. Selain itu, gambar itu mirip dengan potret James yang tersiar di internet.

“Saya membuat ini dengan teknik grid,” kata Anjani.

Miniatur Jurusan dari Barang BekasBagaimana cara menjelaskan di mana anda bersekolah tapi bukan dengan kata-kata? Begitulah esensi dari pameran kerajinan tangan berupa miniatur jurusan sekolah. Di SMK PPN Tanjungsari, siswa-siswi membuat miniatur jurusan pertanian, peternakan, hingga perikanan.

Lihatlah, ada sebuah papan berukuran 40×70 centimeter yang di atasnya dibangun miniatur bioflok. Tentu saja, miniatur ini berkaitan dengan jurusan perikanan. Kolam-kolam berupa drum besar disimbolkan dengan kolam-kolam kecil yang terbuat dari cangkang kap air mineral.

Pipa di tengah bioflok itu berupa sedotan, kemudian sekeliling kolam dihiasi dengan kerikil. Semua area bioflok itu dibatasi dengan rumput-rumput. Mirip area khusus perikanan dengan skala industri.

Di stan lain, ada lho yang membuat miniatur jurusan peternakan, yaitu dengan membuat kandang domba sekaligus dombanya dari kardus bekas kopi. Bahkan, siswa-siswi menggunting dengan pas jenama kopi sehingga kandang itu seolah-olah bersponsor.

Seni dan Dunia Tani

SMK PPN Tanjungsari mendidik siswa-siswinya untuk menguasau dunia pertanian. Namun, bagi Rangga Budiansyah, seni dan dunia pertanian tidak bisa dipisahkan. Baginya, pelajaran seni membuahkan banyak manfaat. Di antaranya agar para siswa berani tampil.

“Petani itu biasanya identik di belakang, nah ini, kesenian membuat mereka terbiasa untuk tampil ke depan. Kemudian juga mengasah kekompakan,” katanya.

Sumber:
https://www.detik.com/jabar/budaya/d-8527692/kala-ujian-seni-jadi-ajang-unjuk-kreativitas-siswa-smk-di-sumedang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 Yayasan Siaga Tanggap Peduli (SIGGAP). All rights reserved.