MANGGARAI, KOMPAS.com – Hampir tiga pekan setelah gempa bumi mengguncang Flores, Albert R. Cundawan (41) masih bertahan di pengungsian. Ia belum berani kembali tinggal di rumahnya di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bukan karena tidak ingin pulang. Albert dan keluarganya justru sudah merindukan rumah.

Namun, kerusakan bangunan yang tidak seluruhnya terlihat dari luar membuat Albert khawatir rumahnya sewaktu-waktu ambruk.

“Sekarang kami kalau mau masuk rumah kaya maling, karena takut ambruk, di luar enggak kelihatan, tapi di dalam dinding platfon rumah sudah ambruk,” kata Albert saat ditemui di Posko Pengungsian Golo Conggo, Rabu (2/9/2026).

Menurut Albert, sejumlah bagian rumah mengalami kerusakan di bagian dalam sehingga kondisinya tidak langsung terlihat dari luar. Karena itu, ia harus ekstra hati-hati setiap kali masuk untuk memeriksa keadaan rumah.

Untuk sementara, Albert bersama keluarganya memilih tetap bertahan di pengungsian. Ia mengatakan kebutuhan dasar selama berada di posko relatif tercukupi.

“Di posko ini ya lumayan tercukupi tapi namanya musibah kita juga sudah ingin dan rindu rumah ya, tapi berharapnya cepat selesai gempanya biar bisa pulang,” ujar Albert.

Albert berharap pemerintah dapat membantu memperbaiki rumah warga yang terdampak gempa. Menurut dia, banyak keluarga masih membutuhkan bantuan karena belum dapat kembali menjalani kehidupan seperti sebelum bencana.

“Harapannya bisa dibantu renovasi nanti oleh pemerintah, terus juga bantuan-bantuan lah. Kami semua terdampak dan belum pulih, kami berharap musibah cepat selesai juga,” tutur dia.

Tak berani kembali ke rumah

Albert merupakan kakak dari Elsiana Tjundawan (33). Mereka mengungsi bersama keluarga sejak gempa mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026.

Elsiana berada di posko bersama ayahnya yang berusia sekitar 60 tahun, Albert, anak-anaknya, serta seekor anjing peliharaan.

Sejak mengungsi, Elsiana mengaku belum kembali melihat kondisi rumahnya secara langsung. Pemeriksaan rumah lebih banyak dilakukan oleh Albert.

“Saya enggak turun lagi lihat rumah sejak gempa, kakak saya saja yang lihat. Tapi kami enggak berani juga ke rumah, takut gempa susulan,” kata Elsiana.

Saat gempa terjadi, Elsiana sedang berada di rumah dua lantai bersama keluarganya. Mereka langsung berlari keluar setelah merasakan guncangan.

Hampir dua pekan pertama di pengungsian, keluarga Elsiana juga sempat kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka mencari air ke rumah-rumah warga di sekitar lokasi.

“Dua minggu pasca-gempa kami nyari air bersih keliling ke rumah-rumah warga sekitar posko, dan syukurnya dibantu. Ya buat minum, mandi, dan lain-lain,” tutur dia.

Kondisi listrik dan jaringan komunikasi juga sempat terganggu. Menurut Elsiana, keduanya baru kembali sekitar dua minggu setelah gempa.

Untuk kebutuhan makan, pengungsi mendapatkan makanan dua kali sehari. Namun, Elsiana memilih tetap memasak di tenda, terutama untuk sarapan dan makanan tambahan bagi keluarganya.

“Terus juga kan berebut di sini, jadi saya masak juga di tenda takut enggak kebagian di posko,” ucap dia.

Ayah gunakan kursi roda

Selain kebutuhan sehari-hari, kondisi ayah Elsiana yang menggunakan kursi roda juga menjadi perhatian. Jarak menuju tenda medis membuatnya kesulitan mendapatkan pemeriksaan secara langsung.

Meski berbagai kebutuhan mulai tersedia di posko, Elsiana dan keluarganya masih memilih bertahan di tenda.

Mereka berharap gempa dan rangkaian guncangan susulan segera berakhir sehingga rumah kembali menjadi tempat yang aman untuk ditinggali.

Di tengah kondisi tersebut, Kompas.com melalui program Jernih Berbagi bersama Kita Bisa turut menyalurkan bantuan bagi warga terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur.

Bantuan yang dihimpun dari pembaca Kompas.com bersama relawan Kita Bisa itu diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan warga yang masih menjalani masa pengungsian.

Bantuan yang disalurkan meliputi kebutuhan pokok berupa sembako, vitamin, dan hygiene kit untuk menunjang kebutuhan sehari-hari warga. Paket psikososial juga diberikan sebagai bagian dari dukungan bagi warga yang masih berada dalam situasi pascabencana.

Penyaluran bantuan dilakukan di kawasan Posko Pengungsian Golo Conggo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, dan diterima oleh pengelola posko untuk selanjutnya didistribusikan kepada warga yang masih bertahan di lokasi.

Kegiatan penyaluran bantuan tersebut didukung oleh Polda Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sumber:
https://regional.kompas.com/read/2026/09/09/232323878/hampir-3-pekan-di-pengungsian-warga-reok-ntt-kalau-mau-masuk-rumah-kaya?page=2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 Yayasan Siaga Tanggap Peduli (SIGGAP). All rights reserved.