
BANDUNG, KOMPAS.com – Aktivitas gempa bumi di Jawa Barat berlangsung cukup intens pada Agustus hingga September 2026, ketika Gunung Anak Krakatau juga mengalami aktivitas erupsi.
BMKG mencatat 195 gempa bumi di Jawa Barat dan sekitarnya sepanjang Agustus, sedangkan rangkaian gempa berulang terjadi di Kabupaten Bandung pada September.
Pada periode berdekatan, Badan Geologi mencatat aktivitas erupsi Anak Krakatau berlangsung cukup intens.
Proses tektonik dan vulkanik berbeda
Pakar kebencanaan dan pemerhati gempa bumi-tsunami, Daryono, mengatakan tidak ada dasar untuk langsung menghubungkan kedua aktivitas tersebut.
“Secara umum tidak ada dasar untuk langsung menghubungkan keduanya. Gempa Jawa Barat terutama merupakan proses tektonik, sedangkan aktivitas Anak Krakatau dikontrol dinamika magma dan sistem vulkaniknya sendiri. Badan Geologi memang mencatat Anak Krakatau mengalami 224 erupsi hingga 3 September dan erupsi menerus sekitar 25 jam pada 4–6 September 2026,” kata Daryono kepada KOMPAS.com, Senin (28/9/2026).
Gempa tektonik terjadi akibat proses pergerakan dan pelepasan tegangan pada struktur kerak bumi maupun zona pertemuan lempeng.
Sementara aktivitas Gunung Anak Krakatau berkaitan dengan dinamika magma dan sistem vulkaniknya.
Karena penyebab dasarnya berbeda, kejadian dalam waktu yang berdekatan belum dapat digunakan sebagai bukti hubungan sebab-akibat.
Daryono mengatakan hubungan baru dapat dipertimbangkan apabila terdapat bukti perubahan parameter vulkanik setelah sebuah gempa.
Gempa kuat secara teori bisa memengaruhi sistem vulkanik
Menurut Daryono, pengaruh gempa terhadap gunung api secara teori memang dapat terjadi dalam kondisi tertentu.
“Secara teori, gempa tektonik yang cukup kuat dan dekat dapat mengubah tegangan atau tekanan fluida pada sistem vulkanik. Tetapi, untuk menyatakan hubungan sebab-akibat harus ada bukti perubahan kegempaan vulkanik, deformasi, gas, atau parameter lainnya setelah gempa. Kebetulan waktunya berdekatan saja tidak cukup,” ujar dia.
Artinya, perlu ada perubahan yang terukur pada aktivitas gunung api setelah kejadian gempa.
Tanpa bukti tersebut, kedekatan waktu kejadian tidak cukup untuk menyimpulkan adanya hubungan.
Sebaliknya, Daryono mengatakan aktivitas Anak Krakatau pada umumnya juga tidak memicu sesar tektonik jauh di Jawa Barat.
“Pada umumnya tidak. Energi dan perubahan tegangan akibat proses vulkanik Anak Krakatau terutama terkonsentrasi di sekitar tubuh dan sistem magmanya. Tidak ada alasan ilmiah untuk menganggap erupsi Anak Krakatau otomatis mengaktifkan sesar-sesar jauh di wilayah Bandung atau Jawa Barat,” tutur Daryono.
Karena itu, aktivitas gempa Jawa Barat dan aktivitas Anak Krakatau perlu dipahami sebagai dua sumber bahaya berbeda.
Untuk gempa, masyarakat perlu memperhatikan potensi guncangan dan dampak sekundernya.
Sementara itu, perkembangan Anak Krakatau harus mengikuti rekomendasi resmi Badan Geologi.
Daryono menyebut status Anak Krakatau telah diturunkan dari Level III atau Siaga menjadi Level II atau Waspada pada 21 September 2026 setelah aktivitas dan deformasinya menunjukkan penurunan.
Sumber:
https://bandung.kompas.com/read/2026/09/30/061300678/gempa-jawa-barat-dan-erupsi-anak-krakatau-berdekatan-apakah-saling-berkaitan?page=2.
