
BANDUNG, KOMPAS.com – Komisi V DPRD Jawa Barat mengingatkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait potensi munculnya kesenjangan pendidikan dalam pelaksanaan program Sekolah Maung (Manusia Unggulan).
Program yang digagas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tersebut dinilai memiliki tujuan positif, namun tetap perlu dikawal agar tidak menimbulkan ketimpangan baru di sektor pendidikan.
Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat, Yomanius Untung, menjelaskan bahwa konsep Sekolah Maung pada dasarnya dirancang untuk mencetak siswa berprestasi yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Program ini membuka peluang bagi siswa dengan berbagai jenis prestasi, baik akademik maupun non-akademik, untuk mendapatkan pendidikan dengan kualitas unggulan.
“Namanya prestasi, baik prestasi akademik, olahraga, seni maupun keagamaan untuk kemudian bisa ditonjolkan dan dipersiapkan dengan baik agar menghasilkan lulusan yang mampu bersaing,” kata Yomanius dikutip dari Antara.
Namun, ia menekankan bahwa tujuan tersebut harus diimbangi dengan kebijakan yang adil dan inklusif.
Mengapa dikhawatirkan menimbulkan kesenjangan?
Yomanius mengingatkan agar program ini tidak mengulang pengalaman masa lalu, seperti penerapan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang sempat menuai kritik karena menciptakan stratifikasi dalam sistem pendidikan.
“Jangan sampai ini mempertegas kastanisasi sekolah. Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dulu dianggap kasta paling tinggi dan sekolah lain berada di bawahnya. Itu jangan sampai terulang,” kata Yomanius.
Menurut dia, konsep Sekolah Maung yang membuka seleksi lintas wilayah tanpa sistem zonasi berpotensi memicu persaingan yang tidak sehat antar-sekolah.
Hal ini dikhawatirkan akan menciptakan kesenjangan antara sekolah unggulan dan sekolah reguler, terutama dalam hal kualitas siswa dan sumber daya pendidikan.
Bagaimana sistem seleksi yang dirancang?
Dalam pembahasan bersama Dinas Pendidikan Jawa Barat, muncul wacana mengenai standar seleksi yang cukup tinggi bagi calon peserta didik.
“Siapapun bisa masuk asal unggul. Tadi, bahkan sempat disebut IQ minimal 130, walaupun itu masih dikaji,” ujar Yomanius.
Wacana tersebut menunjukkan bahwa program Sekolah Maung berpotensi menerapkan seleksi berbasis kemampuan intelektual dan prestasi yang ketat.
Namun, kebijakan ini masih dalam tahap kajian dan belum menjadi keputusan final.
Apa peran pendidikan vokasi dalam program ini?
Selain fokus pada jalur akademik, program Sekolah Maung juga diarahkan untuk memperkuat pendidikan vokasi, khususnya melalui pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) unggulan.
Yomanius menilai bahwa penguatan vokasi sangat penting untuk memastikan lulusan tidak hanya unggul secara teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang siap digunakan di dunia kerja.
Ia menekankan bahwa kualitas pembelajaran praktik harus menjadi perhatian utama dalam pengembangan program tersebut.
Dengan demikian, lulusan Sekolah Maung diharapkan mampu bersaing tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional.
Komisi V DPRD Jawa Barat meminta agar pemerintah daerah berhati-hati dalam merancang dan mengimplementasikan program ini.
Sumber:
https://bandung.kompas.com/read/2026/05/21/150844578/dprd-jabar-wanti-wanti-potensi-kesenjangan-dalam-program-sekolah-maung.
