
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT – Ledakan populasi nyamuk di Waduk Saguling wilayah Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB) disebut karena rapatnya tumbuhan eceng gondok di permukaan air.
Relawan dan pegiat lingkungan Desa Mukapayung, Cililin bernama Taufik Rahmat Wardani alias Mang Kiclik mengkonfirmasi jika meningkatnya populasi nyamuk di wilayahnya merupakan fenomena tahunan.
Meski begitu, dia menyebut jika populasi nyamuk tahun ini merupakan paling banyak dari tahun-tahun sebelumnya.
Mang Kiclik menjelaskan, rapatnya tumbuhan eceng gondok di Waduk Saguling membuat nyamuk-nyamuk lebih leluasa untuk berkembangbiak.
Dengan kondisi tersebut, air menjadi lebih tenang yang disebut sebagai media yang cukup mendukung dan aman untuk nyamuk menaruh telur hingga menjadi jentik.
“Perairannya tertutup sama eceng gondok, predator susah memakan jentik, seperti ikan dan lain-lain, eceng gondok menjadi salah satu tempat yang nyamuk sukai, teduh nyaman dan terhindar dari predator, ikan susah naik, terhalang akar eceng,” kata Mang Kiclik, Jumat (15/5/2026).
Penutupan permukaan air oleh eceng gondok juga mengurangi intensitas cahaya matahari yang masuk ke dalam perairan. Akibatnya, kondisi air menjadi lebih teduh dan lembap.
Lingkungan seperti ini disebut sangat disukai oleh berbagai jenis nyamuk karena membantu menjaga kestabilan suhu dan kelembapan di sekitar habitat berkembang biaknya.
“Suhu airnya juga lebih stabil, meskipun sebenarnya eceng gondok ini berdampak juga pada kualitas air,” ujarnya.
Kemudian, tumpukan daun eceng gondok yang membusuk sering menghasilkan endapan organik di dalam air. Material organik tersebut memicu pertumbuhan mikroorganisme yang menjadi sumber makanan bagi larva atau jentik nyamuk.
“Jadi kaya tersedia makanan yang melimpah, jentik nyamuknya tumbuh lebih cepat terus jadi nyamuk dewasa,” tegasnya.
Mang Kiclik merasakan betul peningkatan populasi nyamuk di bantaran Waduk Saguling khususnya di wilayah Cililin, KBB. Selain merupakan warga setempat, Mang Kiclik aktif meluangkan waktu hingga 4 jam sehari untuk mengangkat eceng gondok dari perairan Waduk Saguling.
“Saya pindah, ini lokasi kedua saya menyisihkan eceng, kalau di tempat yang pertama di Ciminyak itu ga kuat, nyamuknya banyak banget padahal belum terlalu sore. Di sini juga banyak banget, bikin api ada asap buat lumayan ngusir nyamuknya,” kata Mang Kiclik di sela pengangkutan eceng gondok.
Sementara itu, Rohmat warga Kampung Bonceret, Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, KBB mengatakan bahwa rapatnya tumbuhan eceng gondok di Waduk Saguling saat ini karena adanya anomali siklus perairan waduk.
Biasanya, setiap 8 bulan, air Waduk Saguling di daerahnya akan menyusut hingga mengurangi tumbuhan eceng gondok secara signifikan.
“Biasanya kan 8 bulan sekali itu air nyusut, eceng gondok banyak yang mati, nah kemarin tidak sempat nyusut jadi makin banyak,” kata Rohmat.
Sumber:
https://jabar.tribunnews.com/metro-bandung/1173010/cerita-mang-kiclik-lawan-nyamuk-dan-eceng-gondok-di-saguling-populasi-tahun-ini-paling-parah?utm_content=headline-secondary&utm_medium=widget-
