
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG – Pemadaman listrik yang terjadi berulang kali dalam beberapa pekan terakhir mulai berdampak pada usaha konveksi di Kota Bandung.
Salah satunya usaha konveksi dan sablon di kawasan Jalan Supratman – Cicaheum, Kota Bandung yang terancam mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah akibat terganggunya proses produksi.
Pemilik usaha konveksi, Adam, mengatakan hampir seluruh proses produksi di tempat usahanya bergantung pada pasokan listrik.
Dikatakannya, mulai dari mesin cetak DTF, alat press sablon hingga mesin jahit dan peralatan penunjang lainnya menggunakan tenaga listrik.
“Sablon baju seperti ini saja butuh waktu sekitar 15 detik untuk satu baju. Kalau proses press bisa sampai 30 detik dan semuanya pakai listrik,” kata Adam, kepada Tribunjabar.id, Minggu (21/6/2026).
Menurut dia, pemadaman listrik terjadi dengan durasi sekitar tiga hingga empat jam.
Kondisi tersebut membuat target produksi yang sudah dijadwalkan menjadi terganggu.
“Tiap hari ada tiga sampai empat jam mati listrik. Jelas ganggu pekerjaan,” ujarnya.
Adam mengaku tidak menerima pemberitahuan sebelumnya terkait pemadaman yang terjadi.
Akibatnya, proses produksi yang sedang berjalan terpaksa berhenti mendadak.
“Tidak ada informasi sebelumnya. Tiba-tiba mati listrik saja. Ya bikin kesal juga, padahal kita sudah bayar listrik,” katanya.
Selama ini usahanya belum memiliki genset sebagai sumber listrik cadangan.
Namun, seringnya pemadaman membuat dirinya mulai mempertimbangkan untuk membeli genset demi menjaga kelangsungan produksi.
“Kalau mati listrik satu atau dua jam mungkin masih bisa ditoleransi. Tapi kalau lebih dari tiga jam, kita punya deadline dengan pelanggan. Jadinya pekerjaan molor,” ucapnya.
Keterlambatan produksi, kata Adam, dapat berdampak besar terhadap jadwal pengiriman barang.
Dalam sejumlah pesanan partai besar, keterlambatan satu hari saja bisa memengaruhi agenda pelanggan, terutama yang berkaitan dengan kegiatan atau acara tertentu.
“Harusnya barang sudah siap berangkat, sudah di bandara, bahkan ada yang harusnya sudah dikirim.”
“Tapi karena produksi terhenti jadi belum selesai. Kalo yang bikin deg-degan kalau pesanan untuk event, karena kalau telat bisa bermasalah,” katanya.
Adam menambahkan besarnya kerugian akibat pemadaman listrik bergantung pada nilai pesanan yang sedang dikerjakan.
Untuk pesanan kecil dampaknya mungkin tidak terlalu besar, namun berbeda jika pesanan bernilai ratusan juta rupiah.
“Kalau dihitung kerugiannya tergantung nominal order. Kalau pesanan besar bisa sampai puluhan juta rupiah karena produksi dan pengiriman tertunda,” ujarnya.
Ia berharap gangguan pasokan listrik dapat segera diatasi agar aktivitas usaha kembali berjalan normal.
Menurutnya, pelaku usaha membutuhkan kepastian layanan listrik karena keberlangsungan produksi sangat bergantung pada pasokan energi tersebut.
“Harapannya kendala ini cepat diatasi. Kami sebagai pelaku usaha juga punya bayar pajak enggak dinanti-nanti,” kata Adam. (*)
Sumber:
https://jabar.tribunnews.com/metro-bandung/1176366/bandung-sering-mati-lampu-tanpa-pemberitahuan-pengusaha-konveksi-menjerit-rugi-puluhan-juta?page=2.
