
POS-KUPANG.COM, MBAY – Ratusan warga di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, masih bertahan di tenda-tenda pengungsian darurat setelah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores pada Sabtu (15/8/2026) pagi.
Gempa tersebut berpusat di koordinat 8,33 Lintang Selatan (LS) dan 121,32 Bujur Timur (BT), atau sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.
Gempa tergolong dangkal dengan kedalaman sekitar 10 kilometer.
Guncangan kuat itu tidak hanya menimbulkan kerusakan, tetapi juga menyisakan luka, duka, dan trauma mendalam bagi masyarakat yang terdampak.
Getaran gempa bahkan dirasakan hingga sejumlah wilayah di bagian selatan Kabupaten Nagekeo.
Hingga Selasa (18/8/2026), warga terdampak masih memilih bertahan di tempat-tempat pengungsian.
Selain pengungsian terpusat di Lapangan Berdikari, sejumlah warga mendirikan tenda secara mandiri di lingkungan masing-masing bahkan di daerah perbukitan di sekitar Kota Mbay.
Salah satunya adalah warga RT 30, Kelurahan Danga, Kecamatan Aesesa.
Ratusan warga di wilayah tersebut masih tinggal di tenda darurat yang dibangun secara swadaya di halaman rumah warga.
Saat ditemui pada Selasa (18/8/2026) pagi, suasana di tenda pengungsian tampak mulai beraktivitas seperti biasa.
Sejumlah ibu-ibu terlihat sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga, sementara kelompok bapak-bapak duduk bersama sembari mengenang kembali peristiwa gempa yang membuat rumah-rumah mereka mengalami kerusakan.
Di sisi lain, anak-anak tampak bermain di sekitar tenda.
Aktivitas mereka tetap berada dalam pengawasan orang tua masing-masing.
Ketua RT 30, Cindy Mitang, mengatakan kebutuhan utama warga yang masih bertahan di tenda pengungsian saat ini adalah air bersih dan makanan.
Selain itu, warga juga membutuhkan obat-obatan serta berbagai kebutuhan bayi dan balita, seperti popok dan susu.
“Yang paling dibutuhkan di sini itu air bersih, makanan dan juga kebutuhan bayi balita,” ujar Cindy, Selasa (18/8/2026).
Menurut Cindy, RT 30 memiliki 215 jiwa yang tersebar dalam 71 kepala keluarga (KK).
Setelah gempa, warga mengambil pilihan berbeda untuk menyelamatkan diri dan mencari tempat yang dianggap lebih aman.
Sebagian warga mengungsi secara mandiri ke wilayah perbukitan.
Sebagian lainnya menempati dua tenda darurat yang didirikan secara swadaya di lingkungan tersebut. Sementara beberapa warga memilih kembali ke kampung halaman masing-masing.
“Di sini ada dua tenda darurat yang dibuka secara mandiri, yang satunya itu 50 orang, dan yang di sini ada sekitar 60 orang. Ada bayi tiga untuk tenda di sebelah, lansia ada enam orang,” jelas Cindy.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan logistik dan air bersih menjadi perhatian utama warga.
Meski demikian, bantuan pangan dari pemerintah sudah mulai diterima masyarakat.
Bantuan yang telah disalurkan antara lain berupa beras, telur, dan air kemasan.
Namun, kebutuhan warga belum sepenuhnya terpenuhi.
Selain persoalan logistik, sejumlah warga juga mulai mengalami gangguan kesehatan setelah beberapa hari tinggal di lokasi pengungsian.
Cindy menyebut beberapa warganya mengalami luka serta keluhan batuk dan pilek.
Kondisi tersebut telah dilaporkan kepada pihak terkait, tetapi hingga Selasa belum mendapat penanganan.
Warga berharap bantuan dan pelayanan kesehatan dapat segera diberikan, terutama bagi bayi, balita, lansia, serta warga yang mengalami luka dan sakit.
Di tengah keterbatasan dan trauma akibat gempa, warga RT 30 masih berusaha saling membantu dan bertahan di tenda-tenda darurat sambil menunggu kondisi kembali aman dan kehidupan mereka berangsur normal. (bet)
Sumber:
https://kupang.tribunnews.com/provinsi-ntt/976234/ratusan-warga-danga-di-nagekeo-bertahan-di-tenda-darurat-butuh-air-bersih-dan-makanan?page=3.
